kaliurang

Selasa, 12 Mei 2015

SBMPTN Panlok 46 Yogyakarta Menerima 6.186 Mahasiswa Baru

SBMPTN Panlok 46 Yogyakarta Menerima 6.186 Mahasiswa Baru YOGYAKARTA -- Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2015 Panitia Lokal (Panlok) 46 Yogyakarta akan menerima 6.186 mahasiswa baru. Panlok 46 terdiri Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Yogyakarta. Demikian dikatakan Ketua Panitia SBMPTN Panlok 46, Prof Sutrisno kepada wartawan di Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (11/5). Pendaftaran dilaksanakan Senin (11-29/5/2015). Dijelaskan Prof Sutrisno, persyaratan untuk mengikuti SBMPTN 2015 tidak berbeda dengan tahun 2014. Seleksi dapat diikuti seluruh lulusan SMA, MA, dan SMK tahun 2013, 2014, dan 2015. Untuk lulusan 2013 dan 2014 harus memiliki ijazah, sedangkan lulusan 2015 dibuktikan dengan Surat Keterangan Lulus Pendidikan Menengah. Kata Sutrisno, hari pertama pendaftaran SBMPTN, Senin (11/5) hingga pukul 13.00 WIB, sudah ada 160 pendaftar. Calon mahasiswa dapat melakukan pendaftaran melalui lamanhttp://pendaftaran.sbmptn.or.id// "Penyelenggaraan seleksi ini mendapatkan subsidi dari pemerintah sehingga pendaftar hanya membayar Rp 100 ribu," kata Sutrisno. Pendaftar, kata Sutrisno, dapat memilih sebanyak-banyaknya tiga program studi (Prodi). Jika calon mahasiswa memilih satu program studi, dapat memilih di PTN manapun. Jika memilih dua atau tiga Prodi, salah satunya harus di PTN yang berada di wilayah yang sama dengan tempat peserta mengikuti ujian. Materi ujian, kata Sutrisno, meliputi Tes Kemampuan Dasar Saintek (TKD Saintek), Tes Kemampuan dan Potensi Akademik (TKPA), dan Tes Kemampuan Dasar Sosial dan Hukum (TKD Soshum). "Peserta seleksi kelompok Saintek akan mengerjakan materi TKPA dan TKD Saintek. Kelompok Soshum, mengerjakan materi TKPA dan TKD Soshum. Sedang kelompok campuran harus menyelesaikan TKPA, TKD Saintek dan TKD Soshum," katanya. Sedang ujian tertulis SBMPTN, kata Sutrisno, akan dilaksanakan Selasa (9/6/2015). Untuk kelompok IPS, tempat di UNY dan UPN, kelompok IPA dilaksanakan di UGM, sedang kelompok campuran dilaksanakan UIN Sunan Kalijaga. Hasil seleksi ujian SBMPTN akan diumumkan, sebulan setelah ujian, Kamis (9/7/2015). Pengumuman hasil seleksi dapat dilihat di lamanhttp://sbmptn.or.id//," katanya.

Jumat, 26 Desember 2014

caramu

aku bukanlah aku. bukan aku berubah menjadi perempuan cantik secantik barbie atau monalisa dalam lukisan leonardo da vinci, bukan pula perempuan kuat layaknya sailormoon dan cat woman tokoh favorit masa kecilku atau  pun tokoh perempuan cut nyak dien yang ikut berperang bersama suaminya dan rakyat aceh. namun bersama mu membuatku merasa seakan akulah perempuan paling beruntung dalam dunia ini.
bukan karena kau memanjakan aku dengan harta berlimpah bak anak raja, bukan pula dengan sentuhan lembut seolah aku bayi yang tengah lahir sehari kemarin, bukan pula dengan kata-kata manis seperti iklan berbagai jenis produk yang kian hari kian menjamur. kau ajarkan aku arti hidup. menyelesaikan masalah-masalah yang aku alami tanpa menyakiti apa dan siapa. mengambil keputusan saat aku harus memilih dan menyadarkan bahwa tidak semua yang aku inginkan harus aku miliki.memberikan dan mengajarkan sesuatu yang aku butuhkan, begitulah caramu mencintaiku.

Selasa, 02 Desember 2014

Entah

menangis untuknya?sesuatu yang tak pernah aku bayangkan.tak pernah sekali pun aku mengharapkannya.bagiku dia hanya sambilan.bukan hati ato juga hasrat,semua hanya angin yang tak dianggap. bukan aku,bukan aku yang dilihatnya, dia tak mengerti aku . ya karena memang dia tak perlu tau toh dia bukan yang ku mau.meninggalkannya,kenapa mesti takut?

sikap manisnya, belai lembutnya, khawatirnya yang slalu mengganggu dan semua kebawelannya saat tak bersama berlahan membuat aku lupa, lupa jika bukan dia yang ku harap. yang kini tanpa sadar tlah mencuri hati dan perhatianku. tidak...tidak sedikit,karena kini aku tengah menangis dan tangis ini bukan karenya. sebuah tangis ketakutan. ketakutan akan hilangnya cinta, ketulusan, kepercayaan dan semua perhatian yang pernah ia berikan.

Senin, 14 Januari 2013

membingungkan..............

aku ini hanya seorng gadis kecil yang mencoba belajar arti dari sebuah rasa cinta dan sayang..
namun aku mulai bertanya apa sebernya arti dari dua kata itu. apa benar kata orang dua kata itu sumber kebahagiaan,tapi juga tak sedikit yang mengatakan kata itu adalah awal dari kehancuran karena tak ada ketegasan. kedu kata itu mampu meruntuhkan segalanya.ada juga yang bilang itu kata-kata sakral lalu bagaimana dengan orang yang dengan mudah mengatakan dua kata itu pada orang-orang lawan jenis yang ada didekat mereka.....
aku semakin tak mngerti ketika aku mendengar orang berkata bahwa cinta harus memiliki, lalu bagaimana dengan kalimat yangmengatakan bahwa cinta itu dari hati dan tidak dapat dipaksakan.masih ada lagi,cinta tu akan datang sendirinya......
masih ku ingat juga pernah aku mendengar bahwa cinta itu menyakitkan tapi juga suatu kebahagiaan.cinta itu mampu membuatmu merasa hidup lalu bagaimana dengan oramg yang sudah mati....


haduw,,,sungguh dua kata yang membingungkan.

Rabu, 05 Desember 2012

bahasa


BAHASA
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas individu mata kuliah  psikologi umum
Dosen pengampu: Eva Latipah,M.Si


Disusun oleh
Nama   : Anggitiyas S.
Nim     : 11480015


PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS NEGERI ISLAM SUNAN KALIJAGA

A.    LATAR BELAKANG
Masa bayi atau balita (di bawah lima tahun) adalah masa yang paling signifikan dalam kehidupan manusia. Pada masa balita ini, manusia pertama kali belajar atau diperkenalkan dengan suasana yang sama sekali “baru”, dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya di dalam kandungan. Masa balita ini bisa dibagi menjadi 2 periode, yaitu masa orok (0-2 minggu), masa bayi (2 minggu-2 tahun) dan masa kanak-kanak (2-5 tahun).
Pada awal masa orok gerakan-gerakan bayi masih banyak yang muncul dari instingnya, menjelang usia 7-8 bulan, perasaan atau emosi bayi mulai muncul, walaupun rasio atau pikirannya belum berfungsi sama sekali. Pada usia 12-14 bulan, bayi mulai mengenal lingkungannya, baik lingkungan fisik ataupun sosial. Bayi mulai bisa membedakan benda-benda dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Secara bertahap, bayi mulai memahami hubungan antar “kata” dengan apa atau siapa saja yang ada di sekitarnya. Dan untuk itu, bayi mulai memerlukan alat ekspresi yang disebut “bahasa”.
Setiap kelompok masyarakat mempunyai bahasa. Ini merupakan kenyataan yang luar biasa, mengingat banyaknya perbedaan antara suatu masyarakat dengan masyarakat yang lain. Keuniversalan bahasa menunjukkan bahwa bahasa termasuk alat yang sangat diperlukan manusia. Dalam berkomunikasi bahasa merupakan suatu keharusan dan modal yang mampu menunjukkan identitas diri. Baik dari situasi formal maupun non formal. Bahkan bahasa yang dianggap sebagai budaya berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak anak usia dini. Seseorang mulai mengenal bahasa sejak di lingkungan keluarga, kemudian berlanjut ke lingkungan sekolah, dan masyarakat. Kita perlu bahasa untuk berbicara dengan orang lain, mendengaran orang lain, membaca dan menulis. Bahasa memampukan kita mendeskripsikan kejadian-kejadian di masa lalu dan merencanakan masa depan. Bahasa membuat kita dapat mewariskan informasi dari satu generasi ke generasi berikutnya dan enciptakan suatu warisan budaya yang kaya.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah pengertian dan fungsi bahasa?
2.      Bagaimanakah tahap perkembangan bahasa?
3.      Apa sajakah factor yang mempengaruhi perkembangan bahasa?
4.      Bagaimana implikasi bahasa dalam dunia pendidikan?

C.    KAJIAN TEORI
1.                  Pengertian dan Fungsi Bahasa
Bahasa (language) adalah bentuk komunikasi baik itu lisan, tertulis, maupun menggunakan isyarat  yang didasarkan pada sebuah system symbol. Bahasa tidak sekedar cara bagaimana kita bicara dengan orang lain, tetapi juga bagaimana lita menalar dan menyelesaikan masalah. Adapun pengertian bahasa menurut para ahli :
a.       Keraf ( dalam smarapradhipa,2005) bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbil bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bahasa adalah system kounikasi yang mempergunakan symbol-simbol vocal (bunyi ujaran) yag bersifat arbitrer.
b.      Owen (dalam Setiawan, 2006) menyebutkan “language can be defined as a socially shared combinations of those symbols and rule governed combinations of those symbols” (bahasa dapat didefinisikan sebagai symbol yang diterima secara social atau system konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan symbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi symbol-simbol yang diatur oleh ketentuan).
c.       Mackey (1986)  mengatakan bahwa bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan ( language may be form and not matter) atau suatu system lambang bunyi yang arbiter, atau jugs suatu system dari sekian banyak system-sistem, suatu system dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam system-sistem.
d.      Soejono (1983) mengatakan bahwa bahasa adalah suatu Srana perhubungan rohani yang amat penting dalam hidup bersama.
Bahasa terdiri atas kata-kata yang digunakan oleh masyarakat (perbendaharaan kata) dan aturan-aturan untuk memvariasikan dan mengkombinasikan kata-kata tersebut (tata bahasa dan sintaksis).
Berdasarkan pengertian bahasa tersebut, fungsi bahasa dapat diidentifikasikan sebagai berikut:[1]
a.       Untuk mengekspresikan diri
Bahasa membuat manusia dapat mengekspresikan dirinya atau mengungkapkan segala sesuatu yang berada di dunia batinnya. Sesuatu yang merupakan angan-angan pun dapat disampaikan melalui bahasa. Bahasa bukan saja mencerminkan gagasan dan pikiran melainkan juga mencerminkan perilaku seseorang. Bahasa juga dapat disebut sebagai alat ukur untuk menyatakan keberadaan manusia.

b.      Untuk berkomunikasi
Komunikassi merupakan akibaat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Dengan komunikasi kita dapat menyampaikan semua yang kita rasakan dan menyampaikan pikiran yang kita ketahui kepada kepada orang lain.     

c.       Untuk berintegrasi dan beradaptasi secara social
Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan. Bahasa memungkinkan manusia memanfaatkan, mempelajari, dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman mereka. Bahasa juga memberikan kesempatan bersosialisasi antar sesama manusia. Dapat dikatakan pula bahwa bahasa merupakan sarana bagi seseorang untuk menyesuaikan diri atau membaur ke dalam kelompok masyarakat tertentu.

d.      Untuk tujuan control social
Fungsi bahasa sebagai alat control social bermakna bahasa dapt dimanfaatkan untuk mengatur berbagai aktivitas yang dilakukan manusia.
Menurut Larry L. Barker, seperti yang dikutip oleh Mahreni Fajar, bahasa memiliki tiga fungsi:[5]
1.      Penamaan (Naming atau Labeling)
Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasi objek, tindakan dan orang, dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi.
Contoh: Setiap orang tahu sebuah papan kayu atau aluminium yang didesain sedemikian rupa untuk menopang berat badan manusia ketika sedang duduk, dinamakan kursi atau bangku.
2.      Interaksi
Fungsi interaksi menekankan pada berbagai gagasan dan emosi, yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan.
Contoh: Seseorang yang sedang kehilangan anaknya akan bercerita dengan sedihnya untuk berinteraksi dengan kawan agar kondisi hatinya dapat dimengerti oleh sang lawan bicara.
3.      Transmisi
Informasi dari orang lain yang kita terima setiap hari, baik secara langsung maupun tidak langsung, (dari media massa), inilah yang kita sebut fungsi transmisi.

2.      Tahap Perkembangan Bahasa
    Diseluruh dunia, manusia memiliki tahap-tahap dan bentuk-bentuk yang sam dalam menguasai kemahiran berbahasa. Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak anak-anak ketika dia memperoleh bahasa pertama atau bahasa ibu.
                Pada tahun pertama kehidupan, seseorang memproduksi bahassa dengan bergeraka maju melewati tahap-tahap berikut :

a.             Mendekut (kebanyakan mengandung huruf vocal)
Bayi-bayi sanggup memproduksi bunyi dari dirinya sendiri. Mendekut adalah ekspresi oral bayu mengekpolarasi pemroduksian bunyi vocal. Bayi-bayi sebenarnya lebih baik disbanding orang dewasa dalam memilih bunyi yang tidak bermakna bagi mereka (werker,1989). Mereka bias membuat pilihan fonetikk yang sudah tidak bias dibedakan lagi oleh orang dewasa.

b.      Meraban/mengoceh (mengandung bunyi konsonsn dan bunyi vocal)
Pada tahap ini bayi-bayi tuli tidak lagi mengucapkan bunyi vocal. Bunyi diproduksi berdasarkan perubahan didalam pendengaran bayi. Meraban adalah produksi yang dipilih bayi terkait donem-fonem yang terpilih yang merupakan ciri bahasa asal bayi (locke, 1994; petitto& merentette, 1991). Selama tahap ini, kemampuan bayi untuk menyerap  dan memproduksi fon-fon selain fonem semakin memudar.

c.       Ucapan satu kata
Bayi menggunakan satu kata (yang disebut holo frasse) untuk menyampaikan intense;keinginan dan tuntutan. Biasanya, kata-kata adalah kata benda yang melukiskan objek yang dikenal, yang biasa dilihat anak (seperti mobil, buku, bola dll) atau keinginan (seperti mama, papa,jus, kue dll).
Pada usia 18 bulan, anak-anak biasanya memiliki kosa kata 3 sampai 100 kata (siegler, 1986). Namun, kosa kata anak kecil masih tidak bias menuangkan semua keinginannya. Akibatnya anak-anak sering melakukan kesalahan.

d.      Ucapan dua kata dan ujaran telegrafik
Secara bertahap antara usia 1,5 sampai 2,5 tahun, anak-anak mulai mengkombinasikan kata-kata tunggal untuk menghasilkan ucpan dua kata. Komunikasi awal ini Nampak lebih mirip telegram daripada percakapan. Ujaran telegrafis ini dapat digunakan untik menggambarkan ujaran dua atau tiga kata bahkan yang sedikit lebih panjang namun tidak memiliki fungsi.

e.       Struktur kalimat dasar orang dewasa
Kosa kata berkembang dengan cepat. Kosa kata berlipat lebih dari tiga kali, dari sekitar 300 kata pada usia 2 tahun menjadi 1.000 kata pada usia 3 tahun. Hamper secara menakjubka, mulai dari kira-kira usia 4 tahun, kemampuan anak mencapai fondasi dan struktur bahasa orang dewasa seiring dengan kemahiran kosakata yang bertambah. Pada usia 5 tahun kebanyakan anak sudah mengerti dan memproduksi kontruksi kalimat yang cukup kompleks dan tidak lazim. Pada usia 10 tahun, bahasa anak secara fundamental sudah seperti orang dewasa.

3.                  Factor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
Semua orang menggunakan bahasa dalam batas tertentu “mengetahui” aturan-aturanya dan memiliki kemampuan untuk menciptakan kata-kata maupn kalimat yang tidak terbatas. Anak-anak sejak lahir dibekali tata bahas universal, yaitu kepekaan otak terhadap ciri-ciri mendasar yang berlaku umum untuk segala macam bahasa, seperti kata benda dan kata kerja., subjek dan objek, serta kalimat negative.
Adapun factor-foktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu:
a.       Pengaruh biologis
Perkiraan yang dilakukan menghasilkan beragam hasil, namu para ilmuwan percaya bahwa kemampuan bahasa manusia diperoleh sekitar 100.000 tahun yang lalu. Dalam proses ini, bahasa merupakan kemampuan terbaru dari manusia. Dengan memiliki kesiapan fisik untuk berbahasa, homo sapiens melakukan lebih dari sekedar bunyi-bunyian untuk mengembangkan pembicaraan abstrak. Kemampuan bahasa yang canggih ini memberikan manusia keunggulan luar biasa dibandingkan dengan hewan lain dan meningkatkan kemungkinan mereka bertahan hidup (pinker, 1994)

b.      Universilitas bahasa
Ahli lingustikterkenal, Noam Chomsky (1975) adalah salah satu yang berpendapat bahwa manusia secara biologis memiliki kesiapan untuk mempelajari bahasa pada waktu tertentu dengan cara tertentu. Bukti terkuat tentang adanya dasar biologis dari bahasa adalah fakta bahwa anak-anak di seluruh dunia mencapai perkembangan pencapaian besar dalam bahasa pada usia yang hampir sama dan urutan yang juga menyerupai di seluruh dunia, terlepas dari variasi dalam masukan bahasa yang mereka dapatkan dari lingkungan.
Anak-anak tidak dapat mempelajari aturan-aturan dan struktur bahasa sepenuhnya hanya dengan menirukan apa yang mereka dengar. Namun, pasti ada hal-hal alamiah yang menyiapkan anak-anak secara biologis,aturan tata bahasa yang universal yang memungkinkan mereka memahami aturan dasar tentang bahasa dan menerapkan aturan-aturan ini pada pembicaraan yang mereka dengar. Mereka mempelajari bahasa tanpa kesadaran logika yang mendasarinya.
c.       Bahasa dan otak
Penelitian dalam bidang ilmu neurosains menenjukkan bahwa otak memiliki bagia-bagian tertentu yang siap digunakan untuk bahassa (schmalhofer & perfetti, 2007).  Penelitia ilmu syaraf juga menunjukkkan bahwa otak belahan kiri memahami sintaksis dan tata bahasa, namun otak kanan tidak (nakano & blumstain,2004).
Menggunakan teknik-teknik pencitraan otak seperti pemindaian PET, para peneliti menemukan bahwa ketika seorang anak berusia 9 bulan, bagian otak yang menyimpan dan mengurutkan banyak ingatan menjadi berfungsi dengan sempurna (Bauer,2007).

d.      Pengaruh lingkungan
Bahasa tidak dipelajari dalam kevakuman social. Sebagian besar anak ‘berkubung dalam bahasa’ sejak usia sangat dini. Secara khusus, para peneliti menemukan bahwa kuantitas percakapan orang tua kepada anak berhubungan langsung dengan pertumbuhan kosa kata anak dan bahwa kuantitas bicara juga dihubungkan dengan status social-ekonomi keluarga. 
Berpuluh-puluh tahun lalu, para pengikut aliran keprilakuan menentang hipotesis Chomsky dan berpendapat bahwa bahasa tidak menunjukkan hal selain sekumpulan respon-respon yang diperoleh melalui penguatan (Skinner, 1957). Sedikit demi sedikit, ungkap menurut para pengikut aliran keperilakuan, kemampuan bebahasa bai dibangun. Menurut pengikut behavioristic ini, bahasa merupakan keterampilan kompleks yang dipelajari, sama seperti bermainn piano atau menari.
Pandangan behavioristic tentang proses belajar bahasa ini memiliki beberapa masalah. Pertama, pandangan ini tidak menjelaskan bagaiman orang menciptakan kalimat-kalimat baru sebelumnya. Kedua, anak-anak mempelajari sintaksi dari bahas ibu mereka bahkan ketika mereka tidak diberikan penguatan untuk melakukannya.
4.                  Implikasi Bahasa dalam Pendidikan
Perkembangan awal keterampilan berbahasa melalui interaksi informal dengan orang tua dan orang lain dalam lingkungan keluarga merupakan bagian penting dari pemerolehan bahasa. Namun demikian, pendidikan formal di sekolah juga penting. Di sana anak-anak belajar menggunakan aturan struktur bahasa yang lebih tinggi, meningkatkan kosa kata, dan menerapkan keterampilan berbahasa untuk mempelajari mengenai serangkaian konsep baru. Cara sekolah mencapai tujuan ini terkadang kontroversial. Salah satu kontroversi menyangkaut pertanyaan bagaimana anak belajar membaca dengan paling efektif. Perdebatan tentang membaca ini terpusat pada dua pendekatan yang berbeda untuk belajar membaca : pendekatan bahasa menyeluruh dan pendekatan fonik (Reutzel & Cooter, 2008).
a.       Pendekatan bahasa menyeluruh (whole-language approach)
Menekanku intruksi untuk membaca harus disesuaikan dengan proses alamiah anak belajar membaca. Dalam kelas-kelas yang menggunakan pendekatan ini, pembaca awal diajarkan untuk mengenali keseluruhan kata atau keseluruhan kalimat dan untuk menggunakan konteks dari apa yang dibaca untuk menebak makna kata-kata tersebut. Jadi, kelas mungkin dapat membaca Koran, majalah atau buku-buku dan kemudian menulis serta mendiskusikannya.

b.      Pendekatan fonik (phonocs approach)
Menekankan bahwa intruksi untuk membaca harus mengajarkan aturan-aturan dasar untuk menerjemahkan symbol-simbol tertulis menjadi suara. Anak-anak diberikan materi membaca yang kompleks seperti buku dan puisi hanya jika mereka sudah mempelajari aturan-aturan yang menghubungkan fonem yang dibunyikan dengan huruf-huruf alphabet yang digunakan untuk menampilkannya.


D.    PENUTUP
A.    Kesimpulan
Bahasa (language) adalah bentuk komunikasi baik itu lisan, tertulis, maupun menggunakan isyarat  yang didasarkan pada sebuah system symbol. Fungsi bahasa dapat diidentifikasikan sebagai untuk mengekspresikan diri, untuk berkomunikasi, untuk berintegrasi dan beradaptasi secara social, untuk tujuan control social.
Tahap perkembangan bahasa ada lima yaitu mendekut, meraban/mengoceh, ucapan satu kata, ucapan dua kata dan ujaran telegrafik dan struktur kalimat dasar orang dewasa. Factor yang mempengaruhi perkembangan bahasa ada empat yaitu pengaruh biologis, universilitasa bahasa, bahasa dan otak, dan pengaruh lingkungan.

B.     Saran
Semoga makalah ini bermanfaat khususnya untuk penulis dan umumnya untuk para pembaca. Penulis sadar bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan maka dari itu penulis sangat mengharapakan kritik dan saran dari pembaca.
















Daftar Pustaka
Atkinson L.rita, Richard. Pengantar Psikologi. Jakarta:erlangga. 1997
John w. santrock. Perkembangan Anak.edisi kesebelas.jilid 1.jakarta: erlangga.2007
King, laura A. Psikologi Umum: Sebuah Pandangan Apresiatif.salemba humanika.2010
Latipah, eva. Pengantar Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: pedagogia.2012






[1] Eva latipah, pengantar psikologi pendidikan, 2012. Hal.209




bahasa


BAHASA
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas individu mata kuliah  psikologi umum
Dosen pengampu: Eva Latipah,M.Si


Disusun oleh
Nama   : Anggitiyas S.
Nim     : 11480015


PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS NEGERI ISLAM SUNAN KALIJAGA

A.    LATAR BELAKANG
Masa bayi atau balita (di bawah lima tahun) adalah masa yang paling signifikan dalam kehidupan manusia. Pada masa balita ini, manusia pertama kali belajar atau diperkenalkan dengan suasana yang sama sekali “baru”, dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya di dalam kandungan. Masa balita ini bisa dibagi menjadi 2 periode, yaitu masa orok (0-2 minggu), masa bayi (2 minggu-2 tahun) dan masa kanak-kanak (2-5 tahun).
Pada awal masa orok gerakan-gerakan bayi masih banyak yang muncul dari instingnya, menjelang usia 7-8 bulan, perasaan atau emosi bayi mulai muncul, walaupun rasio atau pikirannya belum berfungsi sama sekali. Pada usia 12-14 bulan, bayi mulai mengenal lingkungannya, baik lingkungan fisik ataupun sosial. Bayi mulai bisa membedakan benda-benda dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Secara bertahap, bayi mulai memahami hubungan antar “kata” dengan apa atau siapa saja yang ada di sekitarnya. Dan untuk itu, bayi mulai memerlukan alat ekspresi yang disebut “bahasa”.
Setiap kelompok masyarakat mempunyai bahasa. Ini merupakan kenyataan yang luar biasa, mengingat banyaknya perbedaan antara suatu masyarakat dengan masyarakat yang lain. Keuniversalan bahasa menunjukkan bahwa bahasa termasuk alat yang sangat diperlukan manusia. Dalam berkomunikasi bahasa merupakan suatu keharusan dan modal yang mampu menunjukkan identitas diri. Baik dari situasi formal maupun non formal. Bahkan bahasa yang dianggap sebagai budaya berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak anak usia dini. Seseorang mulai mengenal bahasa sejak di lingkungan keluarga, kemudian berlanjut ke lingkungan sekolah, dan masyarakat. Kita perlu bahasa untuk berbicara dengan orang lain, mendengaran orang lain, membaca dan menulis. Bahasa memampukan kita mendeskripsikan kejadian-kejadian di masa lalu dan merencanakan masa depan. Bahasa membuat kita dapat mewariskan informasi dari satu generasi ke generasi berikutnya dan enciptakan suatu warisan budaya yang kaya.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah pengertian dan fungsi bahasa?
2.      Bagaimanakah tahap perkembangan bahasa?
3.      Apa sajakah factor yang mempengaruhi perkembangan bahasa?
4.      Bagaimana implikasi bahasa dalam dunia pendidikan?

C.    KAJIAN TEORI
1.                  Pengertian dan Fungsi Bahasa
Bahasa (language) adalah bentuk komunikasi baik itu lisan, tertulis, maupun menggunakan isyarat  yang didasarkan pada sebuah system symbol. Bahasa tidak sekedar cara bagaimana kita bicara dengan orang lain, tetapi juga bagaimana lita menalar dan menyelesaikan masalah. Adapun pengertian bahasa menurut para ahli :
a.       Keraf ( dalam smarapradhipa,2005) bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbil bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bahasa adalah system kounikasi yang mempergunakan symbol-simbol vocal (bunyi ujaran) yag bersifat arbitrer.
b.      Owen (dalam Setiawan, 2006) menyebutkan “language can be defined as a socially shared combinations of those symbols and rule governed combinations of those symbols” (bahasa dapat didefinisikan sebagai symbol yang diterima secara social atau system konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan symbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi symbol-simbol yang diatur oleh ketentuan).
c.       Mackey (1986)  mengatakan bahwa bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan ( language may be form and not matter) atau suatu system lambang bunyi yang arbiter, atau jugs suatu system dari sekian banyak system-sistem, suatu system dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam system-sistem.
d.      Soejono (1983) mengatakan bahwa bahasa adalah suatu Srana perhubungan rohani yang amat penting dalam hidup bersama.
Bahasa terdiri atas kata-kata yang digunakan oleh masyarakat (perbendaharaan kata) dan aturan-aturan untuk memvariasikan dan mengkombinasikan kata-kata tersebut (tata bahasa dan sintaksis).
Berdasarkan pengertian bahasa tersebut, fungsi bahasa dapat diidentifikasikan sebagai berikut:[1]
a.       Untuk mengekspresikan diri
Bahasa membuat manusia dapat mengekspresikan dirinya atau mengungkapkan segala sesuatu yang berada di dunia batinnya. Sesuatu yang merupakan angan-angan pun dapat disampaikan melalui bahasa. Bahasa bukan saja mencerminkan gagasan dan pikiran melainkan juga mencerminkan perilaku seseorang. Bahasa juga dapat disebut sebagai alat ukur untuk menyatakan keberadaan manusia.

b.      Untuk berkomunikasi
Komunikassi merupakan akibaat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Dengan komunikasi kita dapat menyampaikan semua yang kita rasakan dan menyampaikan pikiran yang kita ketahui kepada kepada orang lain.     

c.       Untuk berintegrasi dan beradaptasi secara social
Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan. Bahasa memungkinkan manusia memanfaatkan, mempelajari, dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman mereka. Bahasa juga memberikan kesempatan bersosialisasi antar sesama manusia. Dapat dikatakan pula bahwa bahasa merupakan sarana bagi seseorang untuk menyesuaikan diri atau membaur ke dalam kelompok masyarakat tertentu.

d.      Untuk tujuan control social
Fungsi bahasa sebagai alat control social bermakna bahasa dapt dimanfaatkan untuk mengatur berbagai aktivitas yang dilakukan manusia.
Menurut Larry L. Barker, seperti yang dikutip oleh Mahreni Fajar, bahasa memiliki tiga fungsi:[5]
1.      Penamaan (Naming atau Labeling)
Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasi objek, tindakan dan orang, dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi.
Contoh: Setiap orang tahu sebuah papan kayu atau aluminium yang didesain sedemikian rupa untuk menopang berat badan manusia ketika sedang duduk, dinamakan kursi atau bangku.
2.      Interaksi
Fungsi interaksi menekankan pada berbagai gagasan dan emosi, yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan.
Contoh: Seseorang yang sedang kehilangan anaknya akan bercerita dengan sedihnya untuk berinteraksi dengan kawan agar kondisi hatinya dapat dimengerti oleh sang lawan bicara.
3.      Transmisi
Informasi dari orang lain yang kita terima setiap hari, baik secara langsung maupun tidak langsung, (dari media massa), inilah yang kita sebut fungsi transmisi.

2.      Tahap Perkembangan Bahasa
    Diseluruh dunia, manusia memiliki tahap-tahap dan bentuk-bentuk yang sam dalam menguasai kemahiran berbahasa. Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak anak-anak ketika dia memperoleh bahasa pertama atau bahasa ibu.
                Pada tahun pertama kehidupan, seseorang memproduksi bahassa dengan bergeraka maju melewati tahap-tahap berikut :

a.             Mendekut (kebanyakan mengandung huruf vocal)
Bayi-bayi sanggup memproduksi bunyi dari dirinya sendiri. Mendekut adalah ekspresi oral bayu mengekpolarasi pemroduksian bunyi vocal. Bayi-bayi sebenarnya lebih baik disbanding orang dewasa dalam memilih bunyi yang tidak bermakna bagi mereka (werker,1989). Mereka bias membuat pilihan fonetikk yang sudah tidak bias dibedakan lagi oleh orang dewasa.

b.      Meraban/mengoceh (mengandung bunyi konsonsn dan bunyi vocal)
Pada tahap ini bayi-bayi tuli tidak lagi mengucapkan bunyi vocal. Bunyi diproduksi berdasarkan perubahan didalam pendengaran bayi. Meraban adalah produksi yang dipilih bayi terkait donem-fonem yang terpilih yang merupakan ciri bahasa asal bayi (locke, 1994; petitto& merentette, 1991). Selama tahap ini, kemampuan bayi untuk menyerap  dan memproduksi fon-fon selain fonem semakin memudar.

c.       Ucapan satu kata
Bayi menggunakan satu kata (yang disebut holo frasse) untuk menyampaikan intense;keinginan dan tuntutan. Biasanya, kata-kata adalah kata benda yang melukiskan objek yang dikenal, yang biasa dilihat anak (seperti mobil, buku, bola dll) atau keinginan (seperti mama, papa,jus, kue dll).
Pada usia 18 bulan, anak-anak biasanya memiliki kosa kata 3 sampai 100 kata (siegler, 1986). Namun, kosa kata anak kecil masih tidak bias menuangkan semua keinginannya. Akibatnya anak-anak sering melakukan kesalahan.

d.      Ucapan dua kata dan ujaran telegrafik
Secara bertahap antara usia 1,5 sampai 2,5 tahun, anak-anak mulai mengkombinasikan kata-kata tunggal untuk menghasilkan ucpan dua kata. Komunikasi awal ini Nampak lebih mirip telegram daripada percakapan. Ujaran telegrafis ini dapat digunakan untik menggambarkan ujaran dua atau tiga kata bahkan yang sedikit lebih panjang namun tidak memiliki fungsi.

e.       Struktur kalimat dasar orang dewasa
Kosa kata berkembang dengan cepat. Kosa kata berlipat lebih dari tiga kali, dari sekitar 300 kata pada usia 2 tahun menjadi 1.000 kata pada usia 3 tahun. Hamper secara menakjubka, mulai dari kira-kira usia 4 tahun, kemampuan anak mencapai fondasi dan struktur bahasa orang dewasa seiring dengan kemahiran kosakata yang bertambah. Pada usia 5 tahun kebanyakan anak sudah mengerti dan memproduksi kontruksi kalimat yang cukup kompleks dan tidak lazim. Pada usia 10 tahun, bahasa anak secara fundamental sudah seperti orang dewasa.

3.                  Factor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
Semua orang menggunakan bahasa dalam batas tertentu “mengetahui” aturan-aturanya dan memiliki kemampuan untuk menciptakan kata-kata maupn kalimat yang tidak terbatas. Anak-anak sejak lahir dibekali tata bahas universal, yaitu kepekaan otak terhadap ciri-ciri mendasar yang berlaku umum untuk segala macam bahasa, seperti kata benda dan kata kerja., subjek dan objek, serta kalimat negative.
Adapun factor-foktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu:
a.       Pengaruh biologis
Perkiraan yang dilakukan menghasilkan beragam hasil, namu para ilmuwan percaya bahwa kemampuan bahasa manusia diperoleh sekitar 100.000 tahun yang lalu. Dalam proses ini, bahasa merupakan kemampuan terbaru dari manusia. Dengan memiliki kesiapan fisik untuk berbahasa, homo sapiens melakukan lebih dari sekedar bunyi-bunyian untuk mengembangkan pembicaraan abstrak. Kemampuan bahasa yang canggih ini memberikan manusia keunggulan luar biasa dibandingkan dengan hewan lain dan meningkatkan kemungkinan mereka bertahan hidup (pinker, 1994)

b.      Universilitas bahasa
Ahli lingustikterkenal, Noam Chomsky (1975) adalah salah satu yang berpendapat bahwa manusia secara biologis memiliki kesiapan untuk mempelajari bahasa pada waktu tertentu dengan cara tertentu. Bukti terkuat tentang adanya dasar biologis dari bahasa adalah fakta bahwa anak-anak di seluruh dunia mencapai perkembangan pencapaian besar dalam bahasa pada usia yang hampir sama dan urutan yang juga menyerupai di seluruh dunia, terlepas dari variasi dalam masukan bahasa yang mereka dapatkan dari lingkungan.
Anak-anak tidak dapat mempelajari aturan-aturan dan struktur bahasa sepenuhnya hanya dengan menirukan apa yang mereka dengar. Namun, pasti ada hal-hal alamiah yang menyiapkan anak-anak secara biologis,aturan tata bahasa yang universal yang memungkinkan mereka memahami aturan dasar tentang bahasa dan menerapkan aturan-aturan ini pada pembicaraan yang mereka dengar. Mereka mempelajari bahasa tanpa kesadaran logika yang mendasarinya.
c.       Bahasa dan otak
Penelitian dalam bidang ilmu neurosains menenjukkan bahwa otak memiliki bagia-bagian tertentu yang siap digunakan untuk bahassa (schmalhofer & perfetti, 2007).  Penelitia ilmu syaraf juga menunjukkkan bahwa otak belahan kiri memahami sintaksis dan tata bahasa, namun otak kanan tidak (nakano & blumstain,2004).
Menggunakan teknik-teknik pencitraan otak seperti pemindaian PET, para peneliti menemukan bahwa ketika seorang anak berusia 9 bulan, bagian otak yang menyimpan dan mengurutkan banyak ingatan menjadi berfungsi dengan sempurna (Bauer,2007).

d.      Pengaruh lingkungan
Bahasa tidak dipelajari dalam kevakuman social. Sebagian besar anak ‘berkubung dalam bahasa’ sejak usia sangat dini. Secara khusus, para peneliti menemukan bahwa kuantitas percakapan orang tua kepada anak berhubungan langsung dengan pertumbuhan kosa kata anak dan bahwa kuantitas bicara juga dihubungkan dengan status social-ekonomi keluarga. 
Berpuluh-puluh tahun lalu, para pengikut aliran keprilakuan menentang hipotesis Chomsky dan berpendapat bahwa bahasa tidak menunjukkan hal selain sekumpulan respon-respon yang diperoleh melalui penguatan (Skinner, 1957). Sedikit demi sedikit, ungkap menurut para pengikut aliran keperilakuan, kemampuan bebahasa bai dibangun. Menurut pengikut behavioristic ini, bahasa merupakan keterampilan kompleks yang dipelajari, sama seperti bermainn piano atau menari.
Pandangan behavioristic tentang proses belajar bahasa ini memiliki beberapa masalah. Pertama, pandangan ini tidak menjelaskan bagaiman orang menciptakan kalimat-kalimat baru sebelumnya. Kedua, anak-anak mempelajari sintaksi dari bahas ibu mereka bahkan ketika mereka tidak diberikan penguatan untuk melakukannya.
4.                  Implikasi Bahasa dalam Pendidikan
Perkembangan awal keterampilan berbahasa melalui interaksi informal dengan orang tua dan orang lain dalam lingkungan keluarga merupakan bagian penting dari pemerolehan bahasa. Namun demikian, pendidikan formal di sekolah juga penting. Di sana anak-anak belajar menggunakan aturan struktur bahasa yang lebih tinggi, meningkatkan kosa kata, dan menerapkan keterampilan berbahasa untuk mempelajari mengenai serangkaian konsep baru. Cara sekolah mencapai tujuan ini terkadang kontroversial. Salah satu kontroversi menyangkaut pertanyaan bagaimana anak belajar membaca dengan paling efektif. Perdebatan tentang membaca ini terpusat pada dua pendekatan yang berbeda untuk belajar membaca : pendekatan bahasa menyeluruh dan pendekatan fonik (Reutzel & Cooter, 2008).
a.       Pendekatan bahasa menyeluruh (whole-language approach)
Menekanku intruksi untuk membaca harus disesuaikan dengan proses alamiah anak belajar membaca. Dalam kelas-kelas yang menggunakan pendekatan ini, pembaca awal diajarkan untuk mengenali keseluruhan kata atau keseluruhan kalimat dan untuk menggunakan konteks dari apa yang dibaca untuk menebak makna kata-kata tersebut. Jadi, kelas mungkin dapat membaca Koran, majalah atau buku-buku dan kemudian menulis serta mendiskusikannya.

b.      Pendekatan fonik (phonocs approach)
Menekankan bahwa intruksi untuk membaca harus mengajarkan aturan-aturan dasar untuk menerjemahkan symbol-simbol tertulis menjadi suara. Anak-anak diberikan materi membaca yang kompleks seperti buku dan puisi hanya jika mereka sudah mempelajari aturan-aturan yang menghubungkan fonem yang dibunyikan dengan huruf-huruf alphabet yang digunakan untuk menampilkannya.


D.    PENUTUP
A.    Kesimpulan
Bahasa (language) adalah bentuk komunikasi baik itu lisan, tertulis, maupun menggunakan isyarat  yang didasarkan pada sebuah system symbol. Fungsi bahasa dapat diidentifikasikan sebagai untuk mengekspresikan diri, untuk berkomunikasi, untuk berintegrasi dan beradaptasi secara social, untuk tujuan control social.
Tahap perkembangan bahasa ada lima yaitu mendekut, meraban/mengoceh, ucapan satu kata, ucapan dua kata dan ujaran telegrafik dan struktur kalimat dasar orang dewasa. Factor yang mempengaruhi perkembangan bahasa ada empat yaitu pengaruh biologis, universilitasa bahasa, bahasa dan otak, dan pengaruh lingkungan.

B.     Saran
Semoga makalah ini bermanfaat khususnya untuk penulis dan umumnya untuk para pembaca. Penulis sadar bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan maka dari itu penulis sangat mengharapakan kritik dan saran dari pembaca.
















Daftar Pustaka
Atkinson L.rita, Richard. Pengantar Psikologi. Jakarta:erlangga. 1997
John w. santrock. Perkembangan Anak.edisi kesebelas.jilid 1.jakarta: erlangga.2007
King, laura A. Psikologi Umum: Sebuah Pandangan Apresiatif.salemba humanika.2010
Latipah, eva. Pengantar Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: pedagogia.2012






[1] Eva latipah, pengantar psikologi pendidikan, 2012. Hal.209